×

Zelensky Curhat AS Terlalu Sering Mendesak Ukraina, Bukan Rusia

GeNews.co.id Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyampaikan keluhan terbuka kepada Amerika Serikat. Ia menilai Washington terlalu sering menekan Kyiv dalam proses diplomasi perang. Pernyataan itu memicu sorotan baru terhadap hubungan kedua negara.

Keluhan tersebut disampaikan Zelensky dalam konferensi pers di Kyiv pada awal 2026. Ia menegaskan tekanan seharusnya diarahkan kepada Moskow. Ukraina, menurutnya, adalah pihak yang mempertahankan kedaulatan.

Pernyataan Tegas Zelensky di Tengah Tekanan Diplomatik

Zelensky mengatakan negaranya terus didorong untuk menunjukkan fleksibilitas. Namun, ia menilai Rusia belum menunjukkan itikad serupa. Ia menyebut tekanan yang tidak seimbang berpotensi melemahkan posisi Ukraina.

Dalam wawancara dengan sejumlah media Barat, Zelensky menyinggung bantuan militer AS. Ia mengapresiasi dukungan itu, tetapi menolak jika dikaitkan dengan kompromi politik sepihak. Kyiv, tegasnya, tidak akan menyerahkan wilayahnya.

Sejak invasi Rusia pada 24 Februari 2022, Ukraina bergantung pada bantuan Barat. Amerika Serikat menjadi donor terbesar bantuan militer dan finansial. Nilainya mencapai puluhan miliar dolar hingga 2025.

Respons Amerika Serikat dan Dinamika Bantuan Militer

Pemerintahan Joe Biden sebelumnya konsisten mendukung Ukraina. Namun, dinamika politik domestik AS memengaruhi kesinambungan bantuan. Kongres sempat menunda paket bantuan tambahan pada 2024.

Washington menyatakan tekanan diplomatik bertujuan membuka jalan negosiasi. Pejabat Gedung Putih membantah adanya tekanan sepihak kepada Kyiv. Mereka menegaskan Rusia tetap menjadi pihak yang disanksi berat.

Sejak 2022, AS dan Uni Eropa menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Moskow. Sanksi itu menargetkan sektor energi dan perbankan Rusia. Namun, perang masih berlangsung tanpa tanda berakhir cepat.

Perang Berlarut dan Posisi Rusia

Di sisi lain, Presiden Vladimir Putin tetap mempertahankan operasi militer khusus di Ukraina. Moskow mengklaim tindakannya demi keamanan nasional. Klaim itu ditolak Kyiv dan sekutunya.

Pertempuran sengit masih terjadi di wilayah timur seperti Donetsk dan Kharkiv. Data PBB mencatat ribuan korban sipil sejak 2022. Infrastruktur energi Ukraina juga berulang kali menjadi sasaran serangan.

Rusia menuntut pengakuan atas wilayah yang dianeksasi. Ukraina menolak keras tuntutan tersebut. Zelensky menegaskan kedaulatan dan integritas teritorial tidak dapat ditawar.

Dampak Politik dan Masa Depan Negosiasi

Pernyataan Zelensky memperlihatkan ketegangan terselubung dengan Washington. Meski begitu, hubungan strategis kedua negara tetap berjalan. Bantuan militer AS masih menjadi tulang punggung pertahanan Ukraina.

Pengamat menilai curahan hati Zelensky sebagai sinyal diplomatik. Kyiv ingin memastikan dukungan Barat tidak berubah arah. Ukraina juga ingin tekanan internasional tetap fokus pada Rusia.

Hingga pertengahan Februari 2026, belum ada terobosan signifikan menuju gencatan senjata. Negosiasi masih bersifat informal dan sporadis. Dunia kini menanti apakah tekanan global akan mengubah arah perang.