×

Waka Komisi XIII DPR Sedih Siswa SD di NTT Bunuh Diri: Tamparan untuk Kita Semua

Genews.co.id Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI menyampaikan duka mendalam atas kasus siswa sekolah dasar (SD) di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga bunuh diri. Peristiwa tersebut terjadi pada akhir Januari dan menjadi perhatian luas pada Februari 2026.

Politikus tersebut menyebut tragedi itu sebagai tamparan keras bagi semua pihak. Ia menilai negara harus hadir lebih kuat dalam melindungi anak-anak, terutama dari keluarga rentan. Pernyataan tersebut disampaikan kepada wartawan di Kompleks Parlemen. Ia merespons laporan media yang menyebut korban masih berusia sekitar 10 tahun.

Pernyataan DPR Soal Tragedi Anak

Waka Komisi XIII DPR menyatakan rasa sedih dan prihatin yang mendalam. Ia menegaskan bahwa kejadian ini tidak boleh dianggap peristiwa biasa. Menurutnya, kasus tersebut menunjukkan adanya masalah serius. Terutama dalam sistem perlindungan anak dan pemenuhan hak dasar pendidikan.

Ia menilai semua pihak harus melakukan introspeksi. Negara, pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat memiliki tanggung jawab. “Ini tamparan untuk kita semua,” ujar Waka Komisi XIII DPR, seperti dikutip sejumlah media nasional.

Kronologi Singkat Kasus di NTT

Berdasarkan laporan media, korban merupakan siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT. Korban ditemukan meninggal dunia di sekitar kebun milik keluarga. Aparat kepolisian setempat langsung melakukan penyelidikan. Dugaan awal mengarah pada bunuh diri.

Sejumlah media melaporkan korban berasal dari keluarga kurang mampu. Korban diduga mengalami tekanan karena kebutuhan sekolah tidak terpenuhi. Kasus ini kemudian menyebar luas dan memicu keprihatinan publik.

Sorotan terhadap Perlindungan Anak

Waka Komisi XIII DPR menilai tragedi ini mencerminkan lemahnya sistem perlindungan anak. Ia menekankan pentingnya deteksi dini. Menurutnya, anak-anak sering menyimpan beban sendiri. Masalah kecil dapat berdampak besar jika tidak direspons.

Ia meminta sekolah lebih peka terhadap kondisi murid. Guru dan tenaga pendidik diharapkan aktif memantau perubahan perilaku anak. Peran keluarga juga dinilai sangat penting. Komunikasi harus dibangun secara terbuka.

Evaluasi Bantuan Sosial dan Pendidikan

Selain perlindungan anak, DPR menyoroti penyaluran bantuan sosial. Waka Komisi XIII meminta evaluasi menyeluruh. Ia mempertanyakan apakah keluarga korban telah terdata dengan baik. Bantuan pendidikan seharusnya menjangkau anak-anak rentan.

Menurutnya, ne gara tidak boleh kecolongan dalam urusan dasar. Buku dan alat tulis adalah kebutuhan utama anak sekolah.DPR mendorong pemerintah memperbaiki sistem data. Sinkronisasi pusat dan daerah dinilai penting.

Dorongan Investigasi dan Pendampingan

Waka Komisi XIII DPR juga meminta aparat melakukan penyelidikan secara tuntas. Semua fakta harus diungkap secara terbuka. Ia menegaskan pentingnya pendampingan psikososial bagi keluarga korban. Lingkungan sekitar juga perlu mendapat perhatian.

DPR siap mengawal proses ini. Komisi terkait akan berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga. Tujuannya untuk mencegah tragedi serupa terulang.

Isu Nasional yang Perlu Perhatian Bersama

Kasus ini tidak hanya menjadi persoalan daerah. DPR menilai ini adalah masalah nasional. Angka kemiskinan, akses pendidikan, dan kesehatan mental anak saling berkaitan. Penanganannya harus lintas sektor.

Waka Komisi XIII berharap tragedi ini menjadi momentum perbaikan. Negara diminta hadir secara nyata. Ia mengajak semua pihak untuk lebih peduli. Anak-anak adalah masa depan bangsa. Penyelidikan kasus ini masih berjalan. Pemerintah dan DPR berjanji akan mengawal hingga tuntas.