Presiden AS Donald Trump Beli Obligasi Rp 1,69 Triliun, Laporan Keuangan Terbaru Ungkap Portofolio
Genews.co.id Presiden Amerika Serikat Donald Trump tercatat membeli obligasi dengan nilai mencapai sekitar USD 100 juta atau setara Rp 1,69 triliun. Informasi ini terungkap dalam laporan keterbukaan keuangan pejabat publik yang dirilis pada Januari 2026.
Pembelian obligasi tersebut dilakukan dalam rentang waktu November hingga Desember 2025. Nilai investasi tersebut menjadi sorotan karena dilakukan oleh kepala negara aktif.
Fakta Utama Pembelian Obligasi

Dokumen keuangan menunjukkan Trump membeli obligasi pemerintah daerah dan obligasi korporasi. Surat utang tersebut berasal dari berbagai sektor, termasuk utilitas publik dan pelayanan kesehatan.
Selain obligasi munisipal, Trump juga tercatat membeli obligasi perusahaan besar. Beberapa di antaranya berasal dari sektor energi, manufaktur, dan hiburan.
Nilai pembelian bervariasi dalam beberapa transaksi terpisah. Setiap transaksi dilaporkan berada pada kisaran ratusan ribu hingga jutaan dolar AS.
Obligasi Netflix dan Warner Bros Jadi Sorotan
Salah satu bagian portofolio yang menarik perhatian adalah pembelian obligasi Netflix dan Warner Bros Discovery. Kedua perusahaan hiburan tersebut tengah menjadi perhatian pasar global.
Pembelian obligasi dilakukan tidak lama setelah pengumuman rencana strategis perusahaan. Nilai investasi pada masing-masing perusahaan dilaporkan mencapai jutaan dolar AS.
Langkah ini menunjukkan ketertarikan Trump pada sektor media dan hiburan. Namun, investasi tersebut dilakukan dalam bentuk surat utang, bukan saham langsung.
Latar Belakang Investasi Trump

Trump dikenal memiliki portofolio investasi yang tersebar di berbagai sektor. Obligasi menjadi salah satu instrumen yang kerap digunakan untuk menjaga stabilitas aset.
Instrumen obligasi dinilai memberikan pendapatan tetap dengan risiko relatif terukur. Obligasi munisipal juga sering dipilih karena manfaat pajak yang lebih rendah di AS.
Dalam laporan keuangan sebelumnya, Trump juga tercatat memiliki aset dalam bentuk properti dan kas. Investasi obligasi melengkapi strategi diversifikasi tersebut.
Transparansi dan Isu Etika
Pembelian obligasi ini terungkap melalui laporan etika keuangan yang wajib disampaikan pejabat negara AS. Laporan tersebut bertujuan memastikan transparansi dan akuntabilitas.
Sejumlah pengamat menyoroti potensi konflik kepentingan. Hal ini muncul karena kebijakan pemerintah dapat mempengaruhi sektor usaha tertentu.
Pihak Gedung Putih menyatakan bahwa investasi Trump dikelola oleh pihak ketiga independen. Trump disebut tidak terlibat langsung dalam pengambilan keputusan investasi harian.
Dampak dan Respons Publik

Kabar Trump beli obligasi Rp1,69 triliun menarik perhatian pasar keuangan. Investor mencermati langkah tersebut sebagai sinyal kepercayaan pada instrumen utang.
Beberapa analis menilai pembelian obligasi menunjukkan strategi defensif. Instrumen ini dinilai lebih stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Di sisi lain, isu etika tetap menjadi pembahasan publik. Transparansi laporan keuangan dinilai penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Situasi Terkini dan Perkembangan
Hingga saat ini, belum ada kebijakan baru yang dikaitkan langsung dengan investasi tersebut. Pemerintah AS menegaskan pemisahan antara urusan negara dan aset pribadi presiden.
Laporan keuangan ini akan terus menjadi bahan evaluasi lembaga pengawas etika. Setiap perubahan signifikan wajib dilaporkan secara berkala.
Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada kondisi pasar obligasi dan kebijakan ekonomi AS. Publik dan investor diperkirakan tetap memantau langkah finansial Trump.


