×

Sambutan Hangat Pengungsi untuk Titiek Soeharto: Kisah Kemanusiaan di Tengah Banjir Aceh

Genews.co.id -Di tengah guyuran air banjir yang masih meninggalkan luka memilukan,  Titiek Soeharto tiba di Pidie Jaya, Aceh, Sabtu, 29 November 2025. Wajahnya penuh empati saat berkumpul di kamp pengungsi, ditemani oleh Didit Prabowo dan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin. Pengungsi yang kehilangan rumah langsung berbondong-bondong mendekat, mata berkaca-kaca menyambut kehadiran mereka yang terasa seperti pelukan hangat dari keluarga besar. Sumber;daerahsindonews.com

Kedatangan ini bersama dengan putranya Didit Prabowo, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI, dan Mendagri Tito Karnavian, untuk meninjau kondisi pengungsi di lokasi seperti Meunasah dan juga Gedung Tgk Chik Pante Geulima.

Air Mata dan Pelukan Hangat

Suasana langsung pecah saat Titiek berbincang dengan anak-anak korban banjir. “Kakak datang bawa apa?” tanya seorang balita polos, langsung dijawab senyum lebar dan pelukan erat dari Titiek. Didit tak kalah, sering menundukkan kepala hormat sambil membagikan bantuan logistik, membuat warga terharu hingga menangis pilu.​​

Gestur sederhana itu jadi sorotan, beda banget dari kunjungan protokoler biasa. Mereka tidak hanya memberi makanan atau selimut, tapi juga berharap bahwa penderitaan ini tidak sendirian.​

Dukungan Nyata untuk Korban Bencana

Tak berhenti di percakapan, Titiek dan rombongan langsung melakukan aksi nyata. Bantuan makanan siap saji, obat-obatan, dan kebutuhan pokok disebarkan ke ribuan pengungsi. “Kita melakukan semuanya dengan cepat pulih,” ujar Titiek sambil memegangi tangan seorang ibu yang kehilangan segalanya.​​

Langkah ini mengingatkan pada semangat kemanusiaan era ayahnya, Presiden Soeharto, yang dulu mengunjungi pengungsi Vietnam di Pulau Galang tahun 1979. Kini, Titiek melanjutkan warisan itu di negerinya sendiri.​​

Inspirasi Kemanusiaan yang Abadi

Kunjungan ini bukan sekadar momen viral di media sosial, namun. hal ini nyata untuk menguatkan hati pengungsi Aceh. Titiek pergi dengan doa dan janji bantuan lanjutan, meninggalkan jejak bahwa empati masih menjadi senjata ampuh melawan musibah. Di saat seperti ini, tokoh seperti dia jadi pengingat sebagai kemanusiaan tak kenal batas.

Anda Mungkin Telah Melewatkannya