Siswa SD di NTT Bunuh Diri karena Tidak Bisa Beli Buku dan Pena, Pemerintah Serukan Evaluasi

Genews.co.id Seorang siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) ditemukan meninggal dunia pada akhir Januari 2026. Peristiwa ini kemudian menjadi sorotan luas pada Februari 2026 setelah terungkap dugaan bunuh diri yang melibatkan faktor ekonomi keluarga.

Korban diketahui berusia sekitar 10 tahun. Ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Informasi tersebut disampaikan aparat dan dikutip sejumlah media nasional.

Kasus ini kini ditangani aparat kepolisian setempat. Pemerintah pusat dan daerah ikut merespons.

Kronologi Awal Penemuan Korban

Berdasarkan laporan media, korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di kebun milik keluarga. Lokasi berada tidak jauh dari tempat tinggal korban. Warga yang mengetahui kejadian itu segera melapor kepada aparat desa. Laporan diteruskan ke pihak kepolisian.

Petugas kemudian mendatangi lokasi. Polisi melakukan pemeriksaan awal di tempat kejadian. Dari hasil awal penyelidikan, tidak ditemukan tanda kekerasan dari pihak lain. Dugaan bunuh diri pun menguat.

Polisi menyatakan penyelidikan dilakukan secara hati-hati. Aparat memastikan semua prosedur dijalankan sesuai aturan.

Dugaan Latar Belakang Ekonomi

Sejumlah media melaporkan adanya surat tulisan tangan yang ditinggalkan korban. Surat tersebut ditujukan kepada orang tua. Dalam surat itu, korban disebut meminta maaf. Ia juga menyampaikan keinginan memiliki buku dan alat tulis sekolah.

Keluarga korban diketahui hidup dalam keterbatasan ekonomi. Kebutuhan sekolah belum sepenuhnya terpenuhi. Fakta ini kemudian memicu keprihatinan publik. Isu kemiskinan dan akses pendidikan kembali disorot.

Penyelidikan Polisi Masih Berjalan

Kepolisian menyatakan belum menutup kemungkinan lain. Semua temuan masih didalami. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan. Termasuk pihak keluarga dan lingkungan sekitar.

Polisi juga berkoordinasi dengan tenaga medis. Pemeriksaan dilakukan sesuai prosedur. Aparat meminta publik tidak berspekulasi. Informasi resmi akan disampaikan secara bertahap.

Respons Pemerintah Pusat

Kasus ini mendapat perhatian pemerintah pusat. Menteri Sosial menyampaikan duka cita mendalam. Pemerintah menyatakan akan mengevaluasi sistem bantuan sosial. Data keluarga miskin akan diperbarui. Kementerian Sosial menegaskan pendampingan akan diberikan kepada keluarga korban. Bantuan psikososial disiapkan.

Kementerian Pendidikan juga merespons. Pihaknya menyatakan akan melakukan penelusuran lebih lanjut. Pemerintah menegaskan hak pendidikan anak harus dijamin. Tidak boleh ada anak tertinggal karena ekonomi.

Tanggapan DPR dan Pengamat

Pimpinan DPR RI turut angkat bicara. DPR meminta investigasi menyeluruh. Legislator menilai kasus ini menjadi alarm serius. Negara diminta hadir secara nyata. Pengamat pendidikan menyebut tekanan psikologis anak sering luput dari perhatian.

Terutama di daerah miskin. Mereka menekankan pentingnya peran sekolah. Guru diminta lebih peka terhadap kondisi murid.

Isu Perlindungan Anak Mengemuka

Peristiwa ini kembali menyorot isu perlindungan anak. Terutama di wilayah dengan keterbatasan akses. Pakar menyebut anak sering memendam beban sendiri. Tekanan kecil bisa berdampak besar.

Deteksi dini menjadi kunci pencegahan. Komunikasi keluarga dan sekolah sangat penting. Masyarakat diimbau tidak menyebarkan identitas korban. Privasi anak harus dilindungi.

Upaya Pencegahan ke Depan

Pemerintah daerah menyatakan akan memperkuat pendampingan sosial. Layanan konseling akan ditingkatkan. Sekolah diminta aktif melaporkan kondisi murid rentan. Koordinasi lintas sektor akan diperkuat.

Kasus ini masih dalam proses penyelidikan. Aparat berjanji transparan dalam menyampaikan perkembangan. Tragedi ini menjadi pengingat penting. Akses pendidikan dan perlindungan anak harus dijaga bersama.