Rusia Ancam Serang Balik AS Usai Tanker Minyak Disita di Atlantik
GeNews.co.id -Rusia telah mengeluarkan peringatan keras tentang pembalasan militer yang terjadi pada hari kamis tentang penyitaan kapal tanker minyak berbendera Rusia oleh AS di atlantik Utara. Seorang anggota parlemen senior merujuk doktrin senjata nuklir dan menyerukan serangan terhadap kapal-kapal Amerika dalam apa yang digambarkan Moskow sebagai tindakan pembajakan.
Alexei Zhuravlev, wakil ketua pertama Komite Pertahanan Duma Negara, mengatakan Rusia harus “menyerang dengan torpedo dan menenggelamkan beberapa kapal Penjaga Pantai Amerika” sebagai respons terhadap penangkapan kapal tanker marinera. Kapal Marinera dulunya dikenal sebagai Bella 1. Menurut Zhuravlev dalam pernyataan nya di Telegram, Ini pada dasarnya sama dengan serangan terhadap wilayah Rusia, karena kapal tanker tersebut berlayar di bawah bendera nasional kami.”
Sengketa Hukum Laut Internasional

Zhuravlev merujuk doktrin militer Rusia yang izinkan penggunaan nuklir jika kepentingan nasional terancam. Meski begitu, analis keamanan bilang Moscow enggan eskalasi lebih jauh, fokus ke perang Ukraina sambil batasi respons diplomatik.​
Kementerian Perhubungan Rusia kutuk penyitaan ini langgar Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982. “Kebebasan navigasi berlaku di laut lepas, tak ada negara boleh pakai kekerasan ke kapal terdaftar negara lain,” tegas mereka. Kontak hilang setelah pasukan AS naik ke kapal sekitar 190 mil selatan Islandia.​
China ikut kecam, juru bicara Mao Ning sebut penahanan kapal asing di perairan internasional langgar hukum internasional. “China tolak sanksi sepihak ilegal tanpa dasar hukum dan persetujuan Dewan Keamanan PBB,” ujarnya.​
Kronologi Operasi Penyitaan AS

Pasukan AS kejar tanker itu lebih dua minggu pakai kapal penjaga pantai Munro, sita berdasarkan surat perintah pengadilan federal. Alasan: langgar sanksi AS ke Venezuela dan Iran. Inggris bantu dengan pesawat pengintai RAF dan kapal RFA Tideforce.​​
AS klaim tanker awalnya tak berbendera, pasang bendera Guyana palsu saat didekati dekat Venezuela Desember lalu. Setelah lolos upaya naik, kapal cat bendera Rusia dan daftar sementara di Rusia pada 24 Desember.​
Eskalasi dan Langkah Diplomatik
Jumat lalu, Rusia umumkan Presiden Donald Trump setuju lepas dua awak Rusia setelah banding diplomatik. Jumlah total warga Rusia di kapal masih misteri. Penyitaan ini uji batas penegakan sanksi ke “armada bayangan” Rusia yang hindari pembatasan.​
Para ahli maritim bilang aksi ini bisa picu tindakan lebih agresif AS ke jaringan pengiriman sanksi. Ketegangan Rusia-AS kian memanas, berpotensi ganggu upaya damai Ukraina di era Trump.


