Perang AS-Iran Depan Mata, Selat Hormuz Dalam Bahaya

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Situasi ini memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas kawasan Teluk. Sorotan utama tertuju pada Selat Hormuz, jalur vital energi dunia.

Dalam beberapa pekan terakhir, peningkatan aktivitas militer dilaporkan terjadi di sekitar Teluk Persia. Media internasional seperti Reuters dan Al Jazeera menyoroti pergerakan kapal perang dan sistem pertahanan udara di kawasan tersebut. Ketegangan ini disebut sebagai salah satu yang tertinggi sejak 2019.

Eskalasi Militer di Teluk Persia

Pemerintah Amerika Serikat memperkuat kehadiran militernya di kawasan Teluk. Pentagon dalam pernyataan resminya menyebut pengerahan kapal induk dan jet tempur sebagai langkah pencegahan. Langkah ini diambil menyusul ancaman terhadap kepentingan AS dan sekutunya.

Di sisi lain, Iran meningkatkan kesiagaan militernya. Garda Revolusi Iran atau IRGC melakukan latihan militer di sekitar Selat Hormuz. Televisi pemerintah Iran menayangkan uji coba rudal anti-kapal pada awal Februari 2026.

Presiden Joe Biden sebelumnya menegaskan bahwa Washington tidak mencari perang. Namun, ia menekankan AS siap merespons setiap ancaman. Pernyataan itu disampaikan di Gedung Putih pada 10 Februari 2026 waktu setempat.

Selat Hormuz: Jalur Energi Dunia Terancam

Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melintas di jalur ini setiap hari. Data dari U.S. Energy Information Administration menyebutkan lebih dari 17 juta barel minyak per hari melewati selat tersebut.

Jika konflik terbuka terjadi, dampaknya akan langsung terasa pada harga energi global. Analis memperkirakan harga minyak bisa melonjak tajam dalam hitungan jam. Pasar Asia dan Eropa menjadi wilayah yang paling rentan terdampak.

Pada 2019, Iran pernah mengancam menutup Selat Hormuz setelah sanksi diperketat. Saat itu, beberapa kapal tanker diserang di wilayah perairan Teluk Oman. Insiden tersebut meningkatkan premi asuransi pengiriman dan mengganggu rantai pasok global.

Diplomasi Mandek, Dunia Cemas

Upaya diplomasi sejauh ini belum menunjukkan hasil signifikan. Negosiasi tidak langsung terkait program nuklir Iran berjalan alot. Negara-negara Eropa mendesak kedua pihak menahan diri.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa menyerukan de-eskalasi segera. Seruan itu disampaikan dalam konferensi pers di New York pada 12 Februari 2026. Ia memperingatkan risiko konflik regional yang lebih luas.

Sementara itu, Israel dan negara Teluk memantau situasi dengan cermat. Mereka khawatir konflik akan meluas ke Lebanon atau Suriah. Ketidakpastian ini memperbesar tekanan geopolitik di Timur Tengah.

Dampak Global dan Skenario Terburuk

Krisis ini tidak hanya berdampak pada sektor energi. Pasar saham global menunjukkan volatilitas tinggi dalam beberapa hari terakhir. Investor mencari aset aman seperti emas dan dolar AS.

Pengamat militer menilai perang terbuka masih bisa dihindari. Namun, salah perhitungan kecil dapat memicu bentrokan besar. Selat Hormuz menjadi titik paling rawan dalam skenario tersebut.

Jika jalur itu terganggu, ekonomi dunia menghadapi ancaman resesi baru. Negara importir energi seperti Jepang dan India akan terpukul keras. Dunia kini menanti langkah berikutnya dari Washington dan Teheran.

Anda Mungkin Telah Melewatkannya