Modal Asing Banjiri RI Rp1,44 Triliun Awal Tahun, Saham Komoditas Jadi Magnet

Genews.co.id -Pada pekan pertama Januari 2026, pasar keuangan Indonesia kembali menunjukkan daya tarik kuat bagi investor asing. Bank Indonesia (BI) melaporkan aliran modal masuk bersih mencapai Rp1,44 triliun untuk periode 5-8 Januari. Data ini mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi domestik di tengah gejolak global.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan bahwa inflow tersebut didorong oleh pembelian saham dan instrumen SRBI, meski ada outflow dari SBN. Secara kumulatif hingga 8 Januari, modal asing sudah mengalir masuk Rp3,85 triliun ke saham, Rp3,23 triliun ke SBN, dan Rp260 miliar ke SRBI. “Ini menjadi salah satu sinyal positif bahwa investor masi tetap percaya pada fundamental Indonesia,” ujarnya.

Saham Tambang Mineral Jadi Favorit Utama

Penguatan IHSG yang menyentuh rekor 9.000 secara intraday pada 8 Januari menjadi bukti nyata antusiasme investor. Indeks ini ditutup di 8.944,81 pada 7 Januari, naik 3,44 persen year-to-date. Investor asing paling gencar mengoleksi saham komoditas, terutama sektor tambang mineral.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memimpin dengan net buy Rp936,83 miliar year-to-date hingga 7 Januari. Diikuti PT Astra International Tbk (ASII) Rp359,28 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp348,16 miliar. Saham seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga laris manis. Harga komoditas global yang stabil, ditambah prospek hilirisasi mineral, menjadi pendorong utama.

Premi Risiko Naik, Rupiah Tertekan Ringan

Di balik euforia pasar saham, ada catatan hati-hati. Premi risiko Indonesia via CDS 5 tahun naik dari 67,62 bps menjadi 69,57 bps pada 8 Januari. Rupiah pun melemah ke Rp16.815 per dolar AS pada 9 Januari, dari Rp16.785 sebelumnya. Imbal hasil SBN 10 tahun terkerek ke 6,15 persen, sementara indeks dolar AS menguat di 98,93-98,95.

Faktor eksternal seperti penguatan dolar dan yield US Treasury yang fluktuatif berkontribusi pada tekanan ini. Namun, BI menegaskan komitmennya memperkuat koordinasi kebijakan untuk jaga stabilitas.

Prospek Ke Depan: Optimisme dengan Kewaspadaan

Aliran modal positif ini bisa jadi modal awal bagi pertumbuhan ekonomi 2026 yang diproyeksi 5-5,2 persen oleh BI. Namun, tantangan seperti ketegangan geopolitik dan volatilitas komoditas perlu diwaspadai. Investor ritel disarankan diversifikasi portofolio, sementara pemerintah terus dorong reformasi struktural. Dengan fundamental yang solid, Indonesia berpotensi pertahankan momentum ini sepanjang tahun.

Anda Mungkin Telah Melewatkannya