×

Longsor di Jatinangor Sumedang Tewaskan Pekerja

GeNews.co.id – Tahun 2026 diawali suasana berkabung bagi warga Sumedang, Riau. Setelah bencana longsor menerjang area proyek konstruksi di Desa Cisempur, Kecamatan Jatinangor, pada Jumat (2/1/2026) sore. Peristiwa ini merenggut nyawa empat pekerja yang sedang bertugas di lokasi pembangunan dekat lereng tebing.

Proses pencarian dan evakuasi berlangsung intensif selama beberapa jam. Tim gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, relawan, dan unsur masyarakat bekerja tanpa henti hingga malam hari. Korban terakhir berhasil ditemukan sekitar pukul 19.00 WIB melalui pencarian manual menggunakan peralatan ringan. Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Bandung, Muhammad Adip, memastikan bahwa seluruh korban telah terangkat dan tidak ada lagi pekerja yang tertimbun.

Semua Korban Terangkat, Area Dinyatakan Steril

“Operasi sudah selesai. Semua korban ditemukan, dan area telah kami pastikan steril,” ungkapnya. Evakuasi manual dipilih karena akses menuju titik longsor sangat terbatas dan berisiko mengalami pergerakan tanah susulan jika dilalui alat berat. Kondisi medan yang sempit membuat keselamatan personel di lapangan menjadi prioritas utama.

Hampir 200 personel dikerahkan dan dibagi ke dua titik. Yakni di bagian atas untuk pencarian serta di bawah lereng untuk antisipasi dan pengamanan. Di tengah upaya penyelamatan, beberapa pekerja lain berhasil selamat. Mereka tidak mengalami luka fisik serius, namun dilaporkan mengalami guncangan psikologis akibat situasi mencekam saat longsor terjadi.

Daftar korban meninggal meliputi Ivan dan Ujang dari Rancaekek, Kabupaten Bandung; Ade Hilir dari Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung; serta Heri dari Desa Karasak, Kabupaten Sumedang. Tidak ada korban dari warga sipil di sekitar pemukiman, meski getaran longsor sempat memicu kepanikan dan menyebabkan aktivitas di jalur sekitar proyek terganggu untuk sementara.

Pembangunan Tanpa Keselamatan Berpotensi Bencana

Bencana ini menjadi peringatan keras bagi sektor konstruksi dan pemerintah daerah. Kajian geologi wajib dilakukan sebelum proyek berjalan, terutama di wilayah dengan kontur tanah labil. Sistem peringatan dini dan penguatan struktur lereng juga perlu diterapkan sebagai upaya mitigasi. Di sisi lain, pengawasan K3 bagi pekerja konstruksi harus diperketat, termasuk pelatihan menghadapi situasi darurat bencana.

Tragedi ini kembali menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur tidak boleh mengesampingkan aspek keselamatan dan kesiapsiagaan bencana. Tanpa langkah pencegahan yang matang, proyek di area berisiko tinggi akan selalu menyimpan potensi ancaman, baik bagi pekerja maupun lingkungan di sekitarnya.

Anda Mungkin Telah Melewatkannya