Bersama JK dan Pramono, Ribuan Warga Jakarta Bersihkan Kota Demi Cegah Banjir Musiman
Genews.co.id – Di bawah terik matahari pagi Cipinang Melayu, Jusuf Kalla – sang Ketua Umum PMI yang tak pernah lelah berjuang untuk rakyat – turun langsung ke lapangan. Bersama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, ia memimpin gerakan massal “Jaga Jakarta Bersih”. Ribuan warga, ASN, dan relawan bergabung, memegang cangkul dan sekop, membersihkan selokan yang selama ini jadi penyebab banjir tahunan. Bukan sekadar seremoni, ini panggilan nyata untuk selamatkan Jakarta dari air bah.
Kerugian Triliunan Rupiah: Banjir Bukan Musuh Tak Terlihat

Bayangkan: setiap tahun, banjir menyedot triliunan rupiah dari kantong warga Jakarta. Jusuf Kalla tak henti-hentinya menekankan ini saat berbicara di lokasi aksi. “Triliunan setiap tahun rakyat rugi karena banjir. Toko tutup, warung kecil berhenti jualan, pekerja telat datang ke kantor, janji batal. Perusahaan besar pun kena imbas,” katanya tegas, sambil menggenggam sekop.
Data tak bohong. PMI bahkan menyumbang alat kebersihan lengkap: 5.000 cangkul, 5.000 sekop, 1.000 gerobak dorong, dan 3.000 karung sampah. Didistribusikan ke 44 kecamatan dan 267 kelurahan, ini amunisi nyata untuk perang melawan sampah.
Ubah Kebiasaan, Jangan Saling Tuduh: Pesan Emosional JK

Tak hanya bicara, JK ajak kita introspeksi. “Jangan saling tuduh kalau banjir datang. Kota ini milik kita bersama. Gubernur cuma pimpin, tapi bersihkan sampah tanggung jawab kita,” ujarnya. Sederhana tapi mengena: banjir karena air masuk lebih cepat daripada keluar. Solusinya? Bersihkan sungai, gorong-gorong, selokan – satu jam seminggu per warga sudah cukup.
Pramono Anung menambahkan, gerakan ini kolaborasi solid dengan PMI sebagai inisiator. Total 171.134 personel gabungan, plus 60 ekskavator dan 144 dump truck di 66 titik rawan. Dari pengerukan kali hingga angkut rumput liar di permukiman, semuanya serentak kemarin.
Harapan Besar: Jakarta Bebas Banjir Mulai dari Sini
Aksi ini bukan akhir, tapi awal. Bagi warga seperti Bu Siti, pedagang warung di Cipinang, ini harapan nyata. “Biasanya banjir datang, dagangan basah semua. Kalau semua ikut, Jakarta pasti lebih baik,” ceritanya sambil menyeka keringat.
Di tengah musim hujan yang kian tak menentu, gerakan seperti ini jadi pengingat: banjir bisa dicegah, asal kita bergerak bersama. Yuk, ikut tanggung jawab – mulai dari halaman rumah sendiri.


