Jet Tempur AS Mendarat di Israel, Ketegangan Timur Tengah Meningkat
GeNews.co.id Pada Selasa, 24 Februari 2026, sebanyak 12 jet tempur F-22 milik Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah mendarat di pangkalan udara Israel sebagai bagian dari pengerahan militer yang meningkat di kawasan Timur Tengah.
Kedatangan jet-jet canggih ini dikonfirmasi oleh media lokal Israel, KAN TV, dan dilaporkan oleh Anadolu Agency, menandai langkah militer signifikan di tengah ketegangan yang makin memanas antara AS, Israel, dan Iran.
Menurut sumber laporan, pangkalan udara tempat F-22 mendarat merupakan salah satu fasilitas strategis Israel yang sering digunakan dalam operasi regional. Kehadiran pesawat tempur F-22, yang dikenal karena kemampuan superioritas udaranya, mengisyaratkan kesiapan militer AS dan sekutunya dalam menghadapi potensi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut.
Latar Belakang Ketegangan dengan Iran

Ketegangan ini terjadi saat hubungan antara AS dan Iran terus memburuk sejak beberapa tahun terakhir, terkait isu nuklir, sanksi ekonomi, dan dukungan masing-masing pihak kepada sekutu di kawasan.
Dalam konteks ini, pengerahan F-22 dipandang oleh analis sebagai sinyal kuat AS untuk menunjukkan dukungan kepada Israel sekaligus memberikan peringatan militer kepada Iran.
Sebelumnya, sejumlah laporan media juga menyebut bahwa AS tengah mempertimbangkan langkah militer. Lebih lanjut jika negosiasi dan diplomasi tidak menghasilkan deeskalasi dengan Iran. Langkah tersebut memicu kekhawatiran komunitas internasional akan potensi konflik berskala besar di Timur Tengah.
Respons Dunia dan Implikasi Regional
Reaksi internasional atas kedatangan jet tempur AS ini beragam. Beberapa negara Barat menyatakan dukungannya terhadap stabilitas kawasan, sementara pihak lain menyerukan agar semua pihak mengedepankan jalur diplomasi.
Organisasi seperti PBB dan Dewan Keamanan sering menekankan pentingnya pencegahan konflik dan dialog terbuka. Untuk meredakan krisis yang sedang berlangsung antara kekuatan besar dan negara di Timur Tengah.
Analisis pengamat militer juga menunjukkan bahwa langkah ini bisa memperburuk hubungan AS-Iran, karena pengerahan jet tempur tercanggih. Seperti F-22 dapat dianggap sebagai bentuk intimidasi oleh Teheran.
Prediksi Situasi ke Depan
Para analis memperkirakan bahwa ketegangan ini bisa terus berlanjut, terutama jika negosiasi diplomatik tidak menunjukkan kemajuan signifikan. Pengerahan jet tempur AS menunjukkan bahwa pihaknya siap mempertahankan kepentingan strategis di kawasan tersebut.
Jika ketegangan meningkat menjadi konfrontasi terbuka, dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah. Tetapi juga pada stabilitas pasar energi global dan hubungan geopolitik di seluruh dunia.


