Iran Tutup Sementara Selat Hormuz, Dunia Terancam Krisis Energi Global?

GeNews.co.id Iran mengumumkan penutupan sementara Selat Hormuz pada Selasa (17/2/2026) yang disebutkan berlangsung beberapa jam. Penutupan ini dilakukan bersamaan dengan latihan militer angkatan laut di perairan strategis tersebut.

Kebijakan itu menjadi sorotan dunia karena Selat Hormuz dikenal sebagai jalur penting bagi transit minyak dan gas global. Penutupan yang singkat pun memicu kekhawatiran pasar energi internasional.

Iran menjelaskan penutupan dilakukan untuk keamanan saat latihan tembakan langsung oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Pesan yang dikirim Teheran juga dinilai sebagai bentuk tekanan geopolitik.

Pemerintah di berbagai negara kini mengamati perkembangan. Dampak penutupan tersebut dianggap bisa mengguncang pasokan energi dan stabilitas ekonomi global.

Kronologi Penutupan Selat Hormuz

Pemerintah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Selasa sore waktu setempat. Media semi-resmi Iran menyatakan latihan militer adalah alasan utama penutupan jalur laut strategis ini.

Latihan angkatan laut tersebut melibatkan tembakan langsung dari kapal dan unit IRGC di wilayah perairan yang ikut dilalui rute energi dunia.

Ini merupakan kali pertama Iran mengumumkan penutupan jalur tersebut dalam beberapa dekade terakhir, meskipun sebelumnya pernah menjadi ancaman dalam konflik regional.

Beberapa jam setelah penutupan diumumkan, belum jelas kapan tepatnya selat akan dibuka kembali, sementara kapal dagang dan tanker dipaksa menunggu.

Peran Strategis Selat Hormuz

Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Oman dan Samudra Hindia. Jalur ini merupakan titik sempit yang dilalui oleh sebagian besar ekspor minyak dan gas dari Timur Tengah.

Diperkirakan sekitar 20% dari total minyak mentah dunia melewati rute ini setiap hari. Tidak hanya minyak, gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk juga bergantung pada Hormuz.

Karena itu, setiap gangguan di selat ini langsung mempengaruhi pasar energi global. Ketergantungan tinggi terhadap jalur ini membuatnya menjadi choke point atau titik kritis dunia.

Analis energi global menyatakan bahwa bahkan gangguan sementara dapat memicu kenaikan harga minyak dan tekanan inflasi di banyak negara.

Implikasi Terhadap Dunia Energi

Dampak dari penutupan selat terasa segera di pasar minyak global. Harga minyak mentah dunia sempat meningkat tajam setelah berita penutupan disiarkan.

Pakar energi menyatakan jika penutupan diperpanjang, pasar global akan menghadapi tekanan pasokan. Lonjakan harga minyak dapat memicu inflasi serta memperlambat pertumbuhan ekonomi di negara pengimpor energi besar seperti China dan India.

Selain minyak, pasokan LNG juga berisiko terganggu karena rute alternatif terbatas. Khususnya ekspor dari Qatar yang sebagian besar melewati jalur ini.

Namun analis juga mencatat bahwa penutupan total jangka panjang masih dianggap skenario rendah karena konsekuensi ekonomi serius bagi Iran sendiri.

Reaksi Internasional

Penutupan ini datang selagi Amerika Serikat dan Iran menggelar putaran terbaru pembicaraan tidak langsung soal program nuklir di Jenewa. Penutupan disinyalir menjadi pesan keras geopolitik dalam dialog ini.

Negara pengimpor energi besar, termasuk Jepang dan Korea Selatan, menyampaikan keprihatinan serius terhadap keamanan suplai energi. Mereka meminta jalur pelayaran tetap dibuka demi stabilitas ekonomi.

Sementara itu, pelaku pasar dan pemerintah negara lain memperingatkan kenaikan harga energi dapat memperpanjang tekanan inflasi global.

Situasi ini terus berkembang. Pemerintah dan analis energi di seluruh dunia akan memantau apakah penutupan ini hanya sementara atau mencerminkan eskalasi lebih jauh dalam geopolitik global.

Anda Mungkin Telah Melewatkannya