ESDM Kurangi Produksi Batubara 2026 untuk Stabilkan Harga

GeNews.co.id -Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana akan mengurangi produksi batubara pada tahun 2026. Pengurangan batubara ini direncanakan agar dengan target produksi diperkirakan akan di bawah 700 juta ton. Langkah ini dilakukan sebagai upaya menahan penurunan harga batubara di pasar internasional yang terus terjadi akibat melemahnya permintaan global terutama dari Tiongkok dan India.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara ESDM, Tri Winarno, menyampaikan bahwa pengurangan produksi ini diharapkan dapat mengangkat harga batubara kembali. Hal ini agar sesuai dengan kondisi pasar global yang lebih optimal. Penurunan target produksi ini merupakan bagian dari evaluasi terhadap pencapaian produksi dan ekspor tahun ini yang lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Meskipun permintaan dalam negeri diperkirakan meningkat sedikit, namun tidak signifikan sehingga fokus utama adalah menyesuaikan produksi agar harga di pasar dunia bisa stabil.

Kebijakan ini diambil dengan pertimbangan agar keseimbangan antara kebutuhan domestik dengan kapasitas ekspor tetap terjaga stabil. Selain itu dapat membantu mengoptimalisasi penerimaan negara serta menjaga kehausan industri pertambangan dan sektor penunjang lainnya.

Tren Produksi dan Ekspor Batubara Melandai

Tren penurunan produksi batubara telah dimulai sejak tahun 2024. Ketika produksi sempat menembus 836 juta ton, di atas target 710 juta ton. Namun pada tahun 2025, produksi diperkirakan turun menjadi sekitar 750 juta ton. Kondisi Januari juga berpengaruh pada ekspor, sepanjang hingga Juli 2025 tercatat menurun 21,74 persen. Penurunan ekspor dan produksi ini disebabkan oleh lambatnya permintaan dari negara-negara utama seperti China dan India.​

Tekanan Harga Batubara dan Upaya Pemulihan

Harga Batubara Acuan (HBA) semakin tertekan, turun ke level sekitar US$103,75 per ton pada November 2025 turun dari US$109,74 pada bulan sebelumnya. Faktor utama yang mempengaruhi harga adalah melemahnya permintaan global. Terutama dari China yang memilih batubara berkalori tinggi, sementara produksi Indonesia didominasi batubara berkalori rendah hingga sedang. Dengan mengurangi produksi, pemerintah berharap harga batubara Indonesia di pasar internasional dapat kembali stabil dan kompetitif.​

Anda Mungkin Telah Melewatkannya