Calon Deputi Gubernur BI Ungkap Penyebab Kebijakan Purbaya Sulit Dorong Kredit
Genews.co.id Seorang calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) mengungkap sejumlah faktor yang dinilai membuat kebijakan moneter di era Gubernur BI Perry Warjiyo dan Deputi Gubernur Senior Purbaya Yudhi Sadewa belum optimal dalam mendorong pertumbuhan kredit perbankan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum uji kelayakan dan kepatutan. Isu efektivitas transmisi kebijakan moneter kembali menjadi sorotan, terutama di tengah upaya mendorong pemulihan ekonomi dan ekspansi pembiayaan sektor riil.
Calon deputi menilai tantangan utama tidak hanya berasal dari sisi suku bunga.
Tantangan Transmisi Kebijakan Moneter

Menurut calon Deputi Gubernur BI, kebijakan moneter yang longgar belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi peningkatan kredit. Likuiditas di perbankan dinilai relatif memadai.
Namun, penyaluran kredit masih tertahan oleh berbagai faktor struktural. Salah satu faktor utama adalah tingkat kehati-hatian perbankan yang masih tinggi.
Bank cenderung selektif dalam menyalurkan pembiayaan. Penilaian risiko menjadi lebih ketat, terutama untuk sektor tertentu.
Kondisi ini membuat stimulus moneter tidak langsung berdampak pada peningkatan kredit.
Faktor Permintaan Kredit yang Lemah
Selain dari sisi perbankan, calon deputi juga menyoroti permintaan kredit. Dunia usaha dinilai masih berhati-hati dalam melakukan ekspansi.
Ketidakpastian global menjadi salah satu penyebab utama. Pelaku usaha menunda investasi karena mempertimbangkan risiko eksternal.
Permintaan kredit dari sektor rumah tangga juga belum pulih sepenuhnya. Faktor daya beli dan ekspektasi ekonomi turut mempengaruhi keputusan berhutang.
Dalam kondisi ini, pelonggaran moneter tidak otomatis meningkatkan penyerapan kredit.
Evaluasi Kebijakan di Era Purbaya

Kebijakan yang dirancang di era Purbaya Yudhi Sadewa dinilai telah menjaga stabilitas sistem keuangan. Namun, efektivitas dalam mendorong kredit menghadapi tantangan yang kompleks.
Calon Deputi Gubernur BI menyebut bahwa stabilitas sering kali menjadi prioritas utama. Pendekatan ini dinilai tepat dalam menghadapi gejolak global.
Namun, keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan kredit perlu terus dievaluasi. Kebijakan moneter harus didukung oleh kebijakan sektor keuangan lainnya.
Koordinasi dengan otoritas fiskal dan lembaga keuangan dinilai penting.
Peran Kebijakan Makroprudensial
Calon deputi juga menyinggung peran kebijakan makroprudensial. Instrumen ini bertujuan menjaga stabilitas sekaligus mendorong intermediasi.
Namun, implementasinya dinilai belum sepenuhnya optimal. Penyesuaian kebijakan perlu mempertimbangkan kondisi sektor riil.
Beberapa sektor masih menghadapi risiko tinggi. Hal ini mempengaruhi keberanian bank dalam menyalurkan kredit.
Calon deputi menilai kebijakan makroprudensial perlu lebih adaptif.
Dampak terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan kredit memiliki peran penting bagi ekonomi nasional. Kredit menjadi sumber pembiayaan utama bagi investasi dan konsumsi.
Jika penyaluran kredit tertahan, pemulihan ekonomi dapat berjalan lebih lambat. Oleh karena itu, efektivitas kebijakan BI menjadi perhatian banyak pihak.
Calon deputi menekankan pentingnya memperkuat transmisi kebijakan. Langkah ini diharapkan mampu mendorong sektor produktif.
Stabilitas tetap harus dijaga, namun dorongan pertumbuhan juga perlu diperhatikan.
Pandangan terhadap Arah Kebijakan ke Depan
Calon Deputi Gubernur BI menyampaikan komitmen untuk memperkuat koordinasi kebijakan. Sinergi dengan pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan dinilai krusial.
Pendekatan berbasis data akan menjadi landasan utama. Kebijakan akan disesuaikan dengan dinamika ekonomi domestik dan global.
Calon deputi juga menekankan pentingnya komunikasi kebijakan. Kejelasan arah kebijakan dinilai dapat meningkatkan kepercayaan pelaku usaha.
Perkembangan Selanjutnya
Proses seleksi calon Deputi Gubernur BI masih berlangsung. DPR akan melanjutkan tahapan uji kelayakan sebelum mengambil keputusan.
Pandangan calon deputi terkait kebijakan Purbaya menjadi salah satu bahan pertimbangan. Hasil seleksi akan menentukan arah kebijakan BI ke depan.


