Trump Bantah Laporan Tentara Menolak Perang dengan Iran: Fakta & Respons
GeNwes.co.id ada 24 Februari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas membantah laporan media yang menyebutkan bahwa para jenderal militer AS menentang kemungkinan serangan terhadap Iran.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut klaim tersebut sebagai “berita palsu” dan menegaskan bahwa keputusan militer tetap menjadi hak prerogatif pemerintahan sipil.
Pernyataan ini muncul setelah sejumlah media, termasuk outlet AS dan Israel, melaporkan bahwa Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, memperingatkan pemerintah agar tidak melanjutkan ke arah konfrontasi langsung dengan Iran. Trump menolak interpretasi tersebut dan meminta publik untuk tidak percaya pada spekulasi media.
Latar Belakang Ketegangan dengan Iran

Laporan media itu sendiri muncul di tengah memanasnya hubungan antara AS dan Iran, yang dipicu oleh konflik regional, sengketa program nuklir, serta sanksi yang diberlakukan oleh Washington.
Isu ini telah menjadi sorotan internasional sejak beberapa bulan terakhir. Khususnya setelah ketegangan meningkat di sekitar perairan Teluk Persia dan pernyataan keras dari kedua belah pihak.
Beberapa analis mengatakan bahwa konflik antara AS dan Iran bisa memperluas ketegangan di Timur Tengah, termasuk antara sekutu AS. Seperti Israel dengan kelompok yang didukung Iran. Dalam konteks itu, laporan internasional tentang perbedaan pandangan antara militer dan pemerintah AS mendapat perhatian luas.
Dampak Pernyataan Trump

Respons Trump mendapat reaksi beragam dari pengamat politik dan militer. Pendukungnya melihat pernyataan itu sebagai upaya menjaga stabilitas dan mencegah spekulasi berlebihan yang bisa memicu kepanikan pasar atau ketidakpastian geopolitik.
Sementara kritikus menilai bahwa penolakan Trump terhadap laporan media tanpa bukti jelas dapat memperburuk kredibilitas lembaga pemerintahan dan menyulitkan dialog publik yang sehat berkaitan dengan kebijakan luar negeri.
Relevansi Internasional
Isu ini juga berdampak pada hubungan AS dengan sekutu di Eropa dan Asia. Negara-negara seperti Prancis, Jerman, dan Jepang terus menyerukan agar semua pihak menahan diri dan mencari solusi melalui jalur diplomasi.
Sementara itu, Iran menolak tuduhan agresi dan menegaskan haknya dalam mempertahankan kedaulatan serta program militernya sesuai hukum internasional. Kondisi ini menciptakan dinamika kompleks yang mempengaruhi politik global, aliansi keamanan, hingga pasar energi dunia.


