Breaking! Pakistan Serang Wilayah Afghanistan, Korban Jiwa Berjatuhan
GeNews.co.id Serangan udara besar yang dilancarkan Pakistan ke wilayah timur Afghanistan pada Minggu, 22 Februari 2026, menjadi salah satu eskalasi militer paling serius dalam beberapa bulan terakhir. Pesawat tempur Islamabad menyerang sejumlah lokasi yang diklaim sebagai markas kelompok militan. Serangan ini memicu gelombang korban, termasuk warga sipil, serta kecaman dari Kabul dan pengamat internasional.
Insiden ini terjadi di tengah ketegangan berkepanjangan antara kedua negara terkait keberadaan kelompok militan lintas perbatasan. Pemerintah Pakistan menegaskan operasi dilakukan demi keamanan nasional. Sementara otoritas Afghanistan menuding langkah tersebut merupakan pelanggaran kedaulatan wilayahnya.
Serangan Udara Pakistan di Provinsi Timur Afghanistan

Serangan udara terjadi di beberapa provinsi timur Afghanistan, terutama Nangarhar dan Paktika. Pakistan menyatakan pukulan tersebut menyasar markas kelompok militan seperti Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP) dan kelompok afiliasinya di perbatasan.
Menurut pernyataan resmi dari Kemenlu Pakistan, serangan itu merupakan operasi berbasis intelijen yang diputuskan setelah rangkaian bom bunuh diri dan serangan atas pasukan Pakistan dalam beberapa pekan terakhir. Islamabad mengklaim langkah tersebut perlu untuk memutus jalur serangan oleh militan yang menurutnya beroperasi dari wilayah Afghanistan.
Namun pernyataan tersebut dibantah oleh pihak Afghanistan, yang menilai serangan itu menargetkan warga sipil dan melanggar hukum internasional. Negara tetangga itu juga mempermasalahkan pelanggaran kedaulatan udara Afghanistan.
Korban Sipil dan Dampaknya pada Komunitas Lokal

Pihak Afghanistan, termasuk Juru Bicara Pemerintah Zabihullah Mujahid, menyatakan serangan itu telah menyebabkan banyak korban sipil. Informasi awal dari Red Crescent Society melaporkan setidaknya 18 orang tewas, termasuk perempuan dan anak-anak di Provinsi Nangarhar.
Selain korban jiwa, beberapa rumah warga, sekolah, dan bangunan masyarakat dilaporkan rusak akibat serangan tersebut. Aktivitas pencarian dan penyelamatan dilaksanakan oleh penduduk lokal di tengah reruntuhan bangunan setelah serangan udara.
Kematian warga sipil di kawasan perbatasan memicu kekhawatiran publik dan organisasi kemanusiaan. Banyak pihak menilai serangan semacam ini dapat memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah berlangsung di wilayah itu selama bertahun-tahun konflik.
Reaksi Resmi Pemerintah Afghanistan dan Diplomasi Tegas

Respon Kabul terhadap serangan tersebut tergolong keras. Pemerintah Afghanistan menyampaikan protes resmi dengan memanggil Duta Besar Pakistan di Kabul untuk menyampaikan nota keberatan. Mereka menuduh Islamabad melanggar kedaulatan dan hukum internasional.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Afghanistan mengecam operasi sebagai tindakan yang melampaui batas atas nama perang melawan terorisme. Pihaknya menegaskan akan mengambil langkah yang dianggap “pantas dan terukur” dalam menanggapi serangan yang terjadi di wilayahnya.
Sementara itu, Pakistan menegaskan bahwa tindakan itu adalah respons atas tuntutan keamanan dalam negeri setelah gelombang serangan bom bunuh diri dan aksi militan lainnya terjadi di kawasan Khyber Pakhtunkhwa dan area perbatasan.
Risiko Eskalasi Konflik dan Dampak Regional
Serangan udara lintas batas dapat memicu ketegangan yang lebih luas antara kedua negara. Hubungan antara Pakistan dan Afghanistan selama ini sudah rapuh karena tudingan saling melindungi kelompok militan di wilayah perbatasan.
Diplomat dan analis internasional memperingatkan bahwa tanpa mekanisme dialog yang efektif, insiden semacam ini berpotensi menimbulkan konflik terbuka yang lebih besar. Situasi juga memperberat stabilitas di kawasan Asia Selatan, di mana kelompok ekstremis masih aktif.
Selain dampak politik dan militer, serangan ini juga memperjelas tantangan berat yang dihadapi komunitas sipil di wilayah konflik. Upaya perlindungan warga dan penyelesaian damai dinilai krusial oleh berbagai pengamat.


