Iran Klaim Mampu Tenggelamkan Kapal Induk AS: Senjata Canggih Apa yang Dimiliki?
GeNews.co.id Pernyataan Khamenei disampaikan menjelang atau bersamaan dengan dimulainya ronde pembicaraan nuklir di Jenewa. Ia menegaskan bahwa “meskipun AS memiliki angkatan laut yang kuat, mereka bisa saja menerima pukulan yang membuatnya tak lagi berdiri”.
Ancaman ini tidak datang dari ruang hampa. Armada militer AS telah menempatkan kapal induk seperti USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford di perairan Timur Tengah sebagai bagian dari tekanan terhadap Iran.
Akhirnya, gestur ini merupakan bagian dari retorika yang meningkat antara kedua negara, sekaligus sinyal Iran kepada Washington. Bahwa konflik lebih luas akan memiliki konsekuensi serius di kawasan Teluk Persia dan sekitarnya.
Senjata Iran yang Diklaim Bisa Menenggelamkan Kapal Induk

Pakar dunia militer mencatat bahwa Iran tidak menyebutkan secara eksplisit satu jenis senjata tertentu saat Khamenei berpidato. Namun ia menyinggung kemampuan Iran yang dianggap mampu menghadapi kapal perang besar.
Salah satu jenis senjata yang paling sering disebut sebagai ancaman terhadap kapal besar adalah misil balistik dan hipersonik. Iran telah mengembangkan keluarga misil Fattah, termasuk Fattah-1 dan Fattah-2, dengan kisaran jarak 1.400 km dan kecepatan hingga Mach 13-15.
Selain itu, Iran juga memiliki arsenal lengkap anti-kapal yang mencakup sekitar 1.000–1.200 misil laut, termasuk varian seperti Noor, Qader, Ghadir, Nasr, Raad dan Abu Mahdi. Armada ini menjadi bagian dari strategi “area denial” Iran di Laut Persia dan Selat Hormuz.
Strategi Non-Konvensional: Lebih dari Sekadar Misil

Selain senjata jelajah dan balistik, Iran secara signifikan telah berinvestasi pada taktik perang laut asimetris yang memiliki potensi merusak operasi kapal besar AS. Ini termasuk ranjau laut, torpedo, kendaraan tak berawak laut dan udara, serta peluncur roket mobile.
Kombinasi ini dirancang untuk menciptakan ancaman kompleks dengan target bergerak besar seperti kapal induk. Taktik ini mungkin tidak menjamin kapal induk benar-benar “tenggelam,” tetapi bisa membuat operasi militer sangat berbahaya dan memaksa Amerika Serikat mempertimbangkan ulang strategi keamanannya.
Namun, banyak analis militer menekankan pertahanan mutakhir AS sangat kuat. Sistem pertahanan Aegis, pesawat tempur dari kapal induk, radar dan kapal pendamping membuat kerentanan terhadap serangan langsung menjadi tantangan besar bagi Iran.
Implikasi Global dan Risiko Konflik

Ancaman semacam itu tidak hanya berimplikasi pada hubungan bilateral. Penutupan atau ketegangan di jalan strategis seperti Selat Hormuz berpotensi mengguncang pasar energi dunia, karena sekitar 20% minyak global melewati jalur ini setiap hari.
Retorika Khamenei juga menjadi sinyal kepada sekutu regional dan global bahwa Iran memperkuat kesiapsiagaannya di tengah tekanan diplomatik dan militer. Sementara itu, Amerika Serikat terus menegaskan “semua opsi tetap di atas meja” jika Iran tidak kembali ke meja perundingan dengan komitmen yang lebih jelas.
Senjata Iran vs Kapal Induk AS
Pernyataan Khamenei memperlihatkan betapa sensitifnya hubungan AS–Iran saat ini, terutama di tengah negosiasi nuklir. Walaupun klaim Iran tentang kemampuan “tenggelamkan kapal induk” patut diwaspadai, banyak analis menilai efektivitas nyata untuk menghancurkan kapal perang besar semacam itu masih diperdebatkan.
Iran memiliki kombinasi misil balistik, hipersonik, misil anti-kapal, dan taktik laut asimetris yang membuatnya menjadi ancaman yang harus dipertimbangkan. Namun kapal induk AS berlapis pertahanan sangat canggih, sehingga skenario terburuk penuh resiko besar bagi kedua belah pihak.


