Ironi Pedagang Oleh-oleh Puncak Bogor: Wisatawan Membeludak, Omzet Malah Anjlok
GeNews.co.id Kawasan wisata Puncak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kembali ramai dikunjungi wisatawan. Arus kendaraan dan kunjungan ke objek wisata meningkat signifikan pada akhir pekan dan libur panjang. Namun dibalik padatnya arus wisatawan, pedagang oleh-oleh dan pedagang kaki lima (PKL) justru mengeluh omzet turun drastis hingga separuh dari biasanya.
Sejumlah pedagang di sepanjang Jalan Raya Puncak dan Rest Area Gunung Mas menyatakan pendapatan harian kini tidak lagi seimbang dengan volume pengunjung. Padahal Puncak dikenal sebagai destinasi favorit bagi warga Jabodetabek maupun luar daerah.
Wisatawan Membludak, Tapi Bukan Berkah Bagi PKL

Meski wisatawan terus berdatangan, pedagang kaki lima mengeluhkan sepinya transaksi. Salah satu pedagang yang berpindah lokasi ke Rest Area Gunung Mas mengungkapkan penghasilan per hari jauh dari ekspektasi. Dalam beberapa bulan terakhir, pendapatan bahkan dilaporkan hanya sekitar Rp 50.000 per hari, jauh dibawah kebutuhan ekonomi keluarga.
Para pelaku UMKM oleh-oleh juga mengeluh bahwa meski banyak yang berhenti untuk foto atau singgah sebentar, mereka jarang membeli produk. Hal ini menjadi paradoks karena angka kunjungan wisata ke wilayah Bogor dan sekitarnya seperti Kebun Raya Bogor dan kawasan Puncak terus meningkat dalam beberapa periode libur panjang.
Seorang pengelola toko oleh-oleh di Cisarua menjelaskan bahwa banyak wisatawan hanya singgah sesaat tanpa berbelanja. “Ramainya kendaraan tidak otomatis membuat pembeli mampir ke kios kami,” ujarnya kepada media lokal.
Penataan Kawasan dan Relokasi PKL Jadi Faktor

Keluhan pedagang juga terkait dengan penataan kawasan wisata yang sedang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor. Sejak pertengahan 2025, ratusan lapak pedagang yang sebelumnya berada di sepanjang jalur utama telah dibongkar bagian dari program penataan kawasan wisata.
Relokasi ke Rest Area Gunung Mas dimaksudkan untuk memusatkan aktivitas perdagangan di titik yang lebih tertata. Namun kenyataannya, lokasi baru ini belum menarik cukup kunjungan sehingga banyak PKL makin merasakan dampak sepinya pembeli.
Kebijakan ini juga sempat memicu penolakan pedagang dan protes karena dianggap belum disertai strategi pemasaran yang efektif. Dampaknya, omset pedagang oleh-oleh dan jajanan lokal tertekan meskipun jumlah wisatawan tetap tinggi.
Daya Beli Wisatawan Diperkirakan Turun

Pengamat ekonomi lokal menyebut penyebab lain penurunan pendapatan pedagang adalah melemahnya daya beli sebagian wisatawan. Meski kunjungan ramai, banyak dari mereka hanya menghabiskan waktu untuk foto atau menikmati pemandangan tanpa berbelanja oleh-oleh atau kuliner khas Bogor.
Tren ini teramati terutama setelah kunjungan Puncak stabil kembali setelah lonjakan selama libur panjang. Para wisatawan cenderung memilih pengalaman gratis atau murah ketimbang membeli produk lokal yang harga jualnya meningkat karena biaya operasional tinggi.
Majelis UMKM setempat juga mencatat penurunan daya beli di kalangan pengunjung sepanjang akhir 2025. Dampak ini dirasakan oleh pelaku usaha kecil hingga menengah yang selama ini bergantung pada konsumsi wisatawan.
Pemerintah Diminta Turut Campur Tangan
Menanggapi keluhan ini, sejumlah kelompok pedagang meminta langkah konkret pemerintah daerah. Di antaranya, promosi yang lebih fokus pada produk khas lokal, penataan ulang jalur perdagangan yang strategis, dan dukungan pemasaran digital untuk membantu pedagang menjangkau pembeli di luar kawasan wisata.
Pemerintah Kabupaten Bogor sebenarnya telah mempromosikan pariwisata di wilayahnya secara luas, dan data menunjukkan jumlah wisatawan ke kota Bogor mencapai jutaan per tahun. Namun kaitan langsung antara kunjungan wisatawan dan pembelian produk lokal masih perlu diperkuat.
Para pedagang berharap kenaikan kunjungan wisatawan tidak hanya menguntungkan sektor transportasi atau akomodasi, tetapi juga bisa berdampak positif pada usaha mikro seperti toko oleh-oleh yang menjadi identitas budaya kawasan Puncak.


