Tanggul Sungai Tuntang Kembali Jebol, Jalan Raya Semarang–Purwodadi Putus
GeNews.co.id Tanggul Sungai Tuntang kembali jebol di Desa Tinanding, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah pada Senin sore, 16 Februari 2026. Peristiwa itu terjadi akibat curah hujan tinggi yang berlangsung sejak Minggu (15/2/2026) dan tekanan air di sungai meningkat pesat. Kedua faktor ini diduga menyebabkan tanggul tak mampu menahan debit air yang deras.
Lokasi jebol berada pada titik yang sama dengan insiden pada tahun sebelumnya, sehingga banjir langsung menyeruak ke permukiman dan kawasan infrastruktur di sepanjang ruas sungai. Air banjir dengan cepat merendam badan jalan utama yang menjadi jalur vital antara Semarang dan Purwodadi.
Petugas Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali–Juana segera dikerahkan untuk menanganinya. Salah satu langkah darurat yang dilakukan yakni pengurukan dan pemasangan gorong-gorong baja (armco) di lokasi tanggul.
Dampak Jalan Raya Semarang–Purwodadi Lumpuh

Banjir yang menyusul jebolnya tanggul itu menyebabkan Jalan Raya Semarang–Purwodadi terputus total, khususnya pada ruas jalan di Desa Tinanding. Arus kendaraan tak bisa melintas akibat badan jalan terendam dan beberapa bagian aspal terkelupas.
Kepolisian Resor Grobogan kemudian memberlakukan rekayasa arus lalu lintas untuk mencegah kecelakaan dan kemacetan parah. Kendaraan diarahkan melalui jalur alternatif yang lebih aman dari titik banjir.
Akses jalan yang terputus ini berdampak besar pada mobilitas warga, bisnis lokal, dan distribusi logistik antar daerah. Beberapa kendaraan besar bahkan terpaksa menunggu pengalihan rute hingga kondisi dianggap aman.
Jumlah Korban dan Wilayah Terdampak

Catatan terbaru dari Pusdalops BPBD Grobogan dan Kabupaten Demak menunjukkan bahwa dampak banjir akibat jebolnya tanggul dua titik di Sungai Tuntang telah menyentuh sekitar 3.924 jiwa. Ribuan warga di beberapa desa di kedua kabupaten itu terimbas oleh luapan air yang menyebar ke pemukiman masyarakat.
Warga yang terdampak banjir kemudian mengungsi ke titik yang lebih tinggi sementara BPBD dan relawan menyediakan bantuan sementara. Banjir merendam rumah warga, area persawahan, serta lahan produktif lain di sekitar sungai.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berulangnya kejadian tanggul jebol di lokasi tersebut, menimbulkan kerugian sosial dan ekonomi yang semakin nyata pada masyarakat setempat.
Tanggapan Pemerintah dan Penanganan Darurat

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan instansi terkait langsung melakukan peninjauan serta tindakan penanganan darurat. Dinas Pekerjaan Umum dan BBWS Pemali–Juana dipimpin untuk memasang gorong-gorong baja armco sebagai jembatan darurat, sehingga akses jalan dapat kembali difungsikan dalam waktu singkat.
Upaya cepat ini diharapkan bisa memulihkan mobilitas warga dan mengurangi dampak kerugian akibat rusaknya jalan provinsi yang menjadi tulang punggung transportasi regional tersebut. Selain itu, normalisasi sungai juga menjadi opsi jangka panjang guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Sebelumnya, pemerintah daerah setempat juga menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap struktur tanggul yang rusak dan mempercepat rehabilitasi infrastruktur sungai agar lebih tahan terhadap hujan ekstrem dan lonjakan debit air.
Harapan dan Mitigasi Bencana
Masyarakat serta pemangku kebijakan kini menaruh perhatian besar terhadap penanggulangan banjir di sepanjang Sungai Tuntang. Kejadian jebolnya tanggul ini kembali menegaskan pentingnya upaya mitigasi bencana yang terencana dan terintegrasi.
Pihak berwenang diharapkan dapat memperkuat struktur tanggul serta melakukan normalisasi sungai secara berkala. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi banjir dan risiko lebih besar pada musim hujan berikutnya.
Warga juga didorong untuk lebih sigap dalam kesiapsiagaan bencana, termasuk mengamankan aset dan mengikuti arahan resmi dari BPBD setempat ketika hujan intensitas tinggi diprediksi akan mengguyur wilayah.


