Perdana di Indonesia: F-16 dan Super Tucano Berhasil Mendarat di Jalan Tol Trans Sumatera

GeNews.co.id -Dalam sebuah pencapaian bersejarah bagi pertahanan udara nasional, TNI Angkatan Udara (TNI AU) sukses melakukan uji coba pendaratan dan lepas landas pesawat tempur di ruas Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Keberhasilan ini menandai langkah maju dalam konsep pertahanan semesta. Dimana infrastruktur sipil seperti jalan tol kini siap difungsikan sebagai landasan darurat.

Uji Coba Sukses di Ruas Tol Terpeka

Uji coba berlangsung di ruas Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung (Terpeka) KM 228-KM 231, Provinsi Lampung. Yang memiliki panjang lurus 3.000 meter dan lebar 24 meter dan sempurna sebagai landasan alternatif. PT Hutama Karya menutup sementara segmen tersebut sejak 9 Februari untuk pemeliharaan sekaligus mendukung kepentingan pertahanan negara.

Pesawat EMB-314 Super Tucano dari Skadron Udara 21 mendarat lebih dulu setelah beberapa kali go-around, diikuti F-16C (TS-1634) dari Skadron Udara 16 yang berhasil mendarat penuh dengan aman. Wakil Menteri Pertahanan Marsekal Madya TNI (Purn) Donny Ermawan Taufanto menegaskan kelancaran operasi tersebut. “Uji coba pendaratan pesawat tempur berjalan sukses, begitu pula lepas landasnya. Ini menjadi yang pertama di jalan tol Indonesia, alhamdulillah aman dan lancar,” ujarnya.

Wujud Konsep Dispersed Operations

Keberhasilan ini selaras dengan strategi Dispersed Operations yang diterapkan negara-negara maju, seperti Thailand yang mendaratkan Gripen di jalan raya pada Februari 2025, serta Norwegia dengan F-35A di Finlandia tahun 2023. Di Indonesia, jalan tol kini resmi menjadi aset strategis dalam sistem pertahanan semesta, melibatkan TNI, kementerian terkait, pengelola infrastruktur, dan masyarakat. Donny menekankan, “Pertahanan negara bukan hanya tugas TNI, tapi seluruh elemen bangsa yang bersedia berkontribusi.”

Visi Masa Depan: Landasan Alternatif di Setiap Provinsi

Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono berharap inisiatif ini diperluas secara nasional. “Kami ingin setiap provinsi memiliki satu lokasi alternatif sebagai landasan pacu pesawat tempur,” katanya. Langkah ini memperkuat ketahanan udara Indonesia di tengah dinamika ancaman modern, memastikan operasional tetap optimal meski pangkalan utama terganggu.​