Sidang Chromebook: Rahasia Harga Produksi Terbongkar, Nadiem Hadapi Tuduhan Monopoli
GeNews.co.id -Sidang dugaan korupsi pengadaan Chromebook di Kemendikbudristek memasuki babak krusial. Mantan Menteri Nadiem Makarim kini berada di pusaran sorotan setelah saksi-saksi kunci membuka tabir harga produksi dan dugaan praktik monopoli. Persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta ini mengungkap kerugian negara Rp 2,1 triliun dari proyek digitalisasi pendidikan senilai Rp 9,3 triliun.
Harga Produksi Rp 3,7 Juta, Dijual Rp 6,7 Juta

Direktur Utama PT Zyrexindo Mandiri Buana, Timothy Siddik, menjadi saksi pertama yang membongkar harga asli Chromebook. Menurutnya, biaya produksi satu unit tanpa Chrome Device Management hanya Rp 3,7 juta setelah PPN 10 persen pada 2021. Zyrex menjualnya ke distributor seharga Rp 4.050.000 dengan margin 15-18 persen.
Namun, harga di e-katalog pemerintah melonjak menjadi Rp 6,7 juta hingga Rp 6,9 juta per unit. “Ini menyangkut rahasia perusahaan,” ujar Timothy awalnya, sebelum akhirnya membuka data tersebut atas tekanan jaksa.
Dugaan Monopoli melalui Spesifikasi Khusus

Jaksa Penuntut Umum Roy Riadi menyoroti persyaratan sistem Chrome OS dan Chrome Device Management sebagai pintu masuk monopoli. “Pengadaan sudah diarahkan ke Chrome OS. Siapa pun penyedianya harus menggunakan produk tersebut,” tegasnya.
Pertemuan daring pra-pengadaan dengan prinsipal seperti Zyrex, Axioo, dan SPC diduga untuk menjamin kapasitas produksi. Hal ini menciptakan kepastian penyerapan, yang berpotensi menggelembungkan harga.
Kesepakatan Co-Investment 30 Persen
Fakta baru muncul soal kesepakatan co-investment 30 persen sebelum tender dimulai. Jaksa menuding Nadiem mengarahkan spesifikasi agar Google mendominasi ekosistem pendidikan nasional. Nadiem membantah tuduhan harga Rp 10 juta, mengklaim harga riil di eranya Rp 5,5-5,8 juta sesuai e-katalog. Satu tersangka, Jurist Tan, masih buron dan masuk daftar Red Notice Interpol. Sidang lanjutan dijadwalkan pekan depan untuk mendengar saksi dari LKPP dan vendor lainnya.


