Media Israel Sebut 2 Negara Arab Ini Akan Bantu AS Serang Iran
Genews.co.id Tel Aviv / Jakarta — Sejumlah media Israel melaporkan bahwa Yordania dan Uni Emirat Arab (UEA) bersama Inggris akan memberikan dukungan kepada Amerika Serikat jika terjadi operasi militer terhadap Republik Islam Iran. Dukungan itu disebut akan bersifat logistik dan intelijen, termasuk berbagi data serta informasi strategis.
Laporan ini muncul di tengah ketegangan tinggi di Timur Tengah terkait pergerakan armada militer AS dan diskusi potensi aksi militer terhadap Iran. Rencana ini dikaitkan dengan tekanan Washington dan sekutunya untuk menanggapi isu Iran yang terus menjadi sumber ketegangan regional.
Isi Laporan Media Israel

Media Israel seperti Israel Hayom melaporkan bahwa tokoh politik senior di pemerintahan AS menyuarakan dukungan terhadap kemungkinan serangan besar terhadap Iran. Rencana itu dipandang sebagai strategi untuk menghadapi ancaman sekutu Iran dan menjatuhkan kemampuan militer negara itu.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Yordania, UEA, dan Inggris akan membantu pihak AS dalam berbagai kapasitas non-kamuflase. Ini termasuk peran dalam memetakan intelijen, dukungan logistik dan kemungkinan kerja sama pertahanan dalam menghadapi ancaman Iran. Peran Inggris disebutkan meskipun masih belum jelas batasannya.
Media Israel juga menyebut bahwa dukungan tersebut bertujuan untuk melindungi infrastruktur militer dan energi di kawasan Teluk dari kemungkinan balasan Iran jika serangan dilancarkan.
Latar Belakang Ketegangan di Timur Tengah

Ketegangan antara AS, Israel, dan Iran telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Armada militer AS termasuk kapal induk dan kelompok kapal perang dipindahkan ke perairan dekat Iran sebagai bagian dari respon atas ketegangan politik dan militer.
Pihak Iran sendiri telah memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap negaranya akan dipandang sebagai bentuk perang total dan akan mendapat balasan serius. Pernyataan keras ini menunjukkan eskalasi retorika antara Teheran dan Washington.
Ketegangan ini juga dipicu oleh kritik Iran terhadap kebijakan AS di kawasan dan kekhawatiran atas program nuklir Iran. AS sebelumnya telah memperkuat kehadiran militer di Teluk dan mengancam tindakan militer jika Iran tidak menahan diri dari aktivitas yang disebut sebagai ancaman.
Reaksi di Kawasan Arab
Meski laporan Israel menyebut Yordania dan UEA akan memberikan dukungan kepada AS, reaksi negara Arab lain berbeda. Beberapa negara di wilayah Teluk seperti Arab Saudi, Oman, dan Qatar dilaporkan telah menyuarakan keprihatinan atas potensi konflik yang lebih luas dan terus mendorong solusi diplomatik.
Negara Arab lain bahkan mengecam serangan yang dianggap agresi terhadap Iran atau melibatkan negara lain tanpa persetujuan luas. Hal ini menunjukkan betapa kompleksnya dinamika politik di kawasan tersebut.
Kekhawatiran Internasional

Laporan dukungan Arab kepada AS dan potensi serangan terhadap Iran memicu kekhawatiran di komunitas internasional. Banyak negara mengingatkan agar konflik tidak meluas dan menimbulkan dampak besar terhadap stabilitas global.
Uni Eropa dan organisasi internasional lainnya telah menyerukan agar semua pihak mengedepankan dialog dan mencegah eskalasi konflik di wilayah yang sudah sangat tegang.
Sementara itu, kekuatan global seperti China dan negara anggota G7 telah menekankan pentingnya meredakan ketegangan melalui diplomasi, bukan militer. Mereka mengatakan bahwa konflik militer hanya akan memperburuk situasi di kawasan dan mempengaruhi ekonomi global.
Situasi Masih Berkembang
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Yordania atau UEA yang secara eksplisit mengkonfirmasi laporan media Israel tersebut. Inggris juga belum memberikan pernyataan lengkap tentang keterlibatannya.
Pihak AS sendiri belum menyatakan secara pasti apakah dukungan itu merupakan bagian dari kebijakan resmi. Pembicaraan antara sekutu kawasan dan Washington terus dipantau oleh pemangku kepentingan internasional.
Kasus ini masih menjadi tahap pengembangan dan berpotensi berubah seiring perkembangan diplomasi dan pergerakan politik di kawasan. Pemantauan lebih lanjut dari media dan pejabat pemerintah dunia terus dilakukan.Â


