Ngeri Perumahan Subsidi Bak Danau Gara-gara Banjir di Bekasi
Genews.co.id Sejumlah perumahan subsidi di Bekasi, Jawa Barat, kembali terendam banjir parah setelah hujan ekstrem mengguyur wilayah itu. Genangan air mencapai ketinggian yang luar biasa, membuat kawasan permukiman rakyat terlihat seperti danau besar dan memaksa ratusan keluarga mengungsi. Peristiwa ini mengejutkan warga, terutama karena lokasi perumahan semula dipasarkan sebagai hunian aman dari banjir.
Banjir terjadi di Desa Sukamekar, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi sejak Jumat (23/1/2026). Kondisi terparah dialami oleh perumahan subsidi seperti Green Lavender, Nebraska Terrace, dan Grand Natura yang seluruhnya terendam genangan air tinggi hingga sepinggang orang dewasa.
Genangan hingga Nyaris Dua Meter

Menurut Sekretaris Desa Sukamekar, Taufik, banjir kali ini menyebabkan air mencapai sekitar 150–200 sentimeter di beberapa titik perumahan. Ketinggian banjir ini sempat membuat permukiman lebih mirip danau daripada lingkungan perumahan. Luapan ini terutama terjadi akibat meluapnya aliran Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL) yang debit airnya meningkat tajam.
“Ketinggian air mencapai hampir dua meter di beberapa titik. Rumah-rumah hampir habis tertutup banjir,” ujar Taufik, saat dihubungi tim media.
Banjir menggenangi rumah penduduk bahkan menembus ke dalam bangunan rumah subsidi yang umumnya berada di kawasan rendah. Kondisi ini membuat warga kewalahan dan barang rumah tangga banyak yang rusak akibat terendam air.
Ratusan Hingga Ribuan Warga Mengungsi
Dampak banjir kali ini sangat besar. Berdasarkan data sementara, sekitar 3.000 keluarga atau lebih dari 10.000 jiwa terdampak banjir di Desa Sukamekar. Dari jumlah tersebut, ribuan warga terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Mereka berlindung di berbagai titik evakuasi seperti gedung umum, mushola, dan sekolah sementara banjir belum surut.
Beberapa balita dan lansia juga dievakuasi oleh petugas dengan bantuan perahu karena genangan terlalu tinggi bagi warga untuk berjalan kaki.
Serba Ulang: Banjir Berulang Kali

Warga setempat mengatakan bahwa banjir yang menenggelamkan perumahan subsidi ini bukan kejadian pertama. Di beberapa titik seperti Green Lavender Sukamekar, banjir telah terjadi berkali-kali sejak kawasan tersebut mulai dihuni. Menurut pengakuan warga, sudah tiga hingga lima kali kawasan itu terendam air sejak awal pemukiman dibangun.
“Kita mendapat janji dari developer bahwa perumahan ini aman dari banjir. Nyatanya banjir selalu datang dan semakin tinggi,” kata seorang warga.
Beberapa warga bahkan merasa seolah tinggal di daerah “yang tidak pernah lepas dari banjir”, sehingga kondisi perumahan berubah seperti danau besar setiap hujan ekstrim turun.
Tata Ruang dan Perencanaan Dipertanyakan
Fenomena banjir berulang ini memunculkan pertanyaan serius terhadap perencanaan tata ruang dan izin pembangunan perumahan subsidi di kawasan tersebut. Para warga dan aktivis lingkungan mempertanyakan apakah ada kajian risiko banjir yang memadai sebelum perumahan mulai dibangun.
Menurut laporan media lokal, sejak awal pemasaran perumahan subsidi, pengembang menjanjikan kawasan aman dari risiko banjir. Namun kenyataan menunjukkan bahwa kawasan itu belum ditingkatkan mitigasi risikonya, sehingga titik-titik rendah dan dekat sungai terus terendam setiap musim hujan tinggi.
Ketua RW setempat mengatakan banjir berulang justru semakin melelahkan warganya. Mereka mendesak perbaikan struktur drainase dan tanggul yang lebih kuat atau solusi permanen yang mampu menahan luapan sungai.
Dampak Sosial dan Keluhan Warga

Banjir ini memicu gangguan sosial yang luas. Anak-anak tidak dapat bersekolah, aktivitas ekonomi warga terhenti, dan layanan dasar seperti listrik maupun akses jalan terganggu. Banyak warga merasa terjebak dalam kondisi ini karena keterikatan kredit rumah subsidi dan keterbatasan lokasi alternatif rumah lain.
Beberapa warga bahkan menyatakan kecewa karena banjir berulang kali membuat nilai properti rumah mereka turun drastis, sehingga peluang untuk menjual rumah dan pindah menjadi kecil.
Upaya dan Imbauan Pemerintah
Pihak BPBD Kabupaten Bekasi bersama instansi lain terus memantau kondisi dan menyiapkan langkah darurat. Beberapa upaya termasuk penyediaan bantuan logistik, pemasangan tanggul sementara, serta koordinasi untuk realokasi atau mitigasi jangka panjang.
BPBD juga mengimbau warga untuk tetap mengikuti informasi peringatan cuaca dari BMKG dan siap siaga jika hujan terus turun. Warga diminta mengungsi bila ketinggian air meningkat kembali.


