Status Gunung Ile Lewotolok di NTT Naik ke Level Siaga
Genews.co.id Status aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), resmi dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada Minggu, mulai pukul 11.00 WITA. Kenaikan level ini diputuskan menyusul peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
Keputusan ini disampaikan oleh Badan Geologi setelah data pemantauan menunjukkan lonjakan kejadian gempa dan aktivitas magma yang terus meningkat. Gunung tersebut sebelumnya telah menunjukkan aktivitas erupsi sejak awal Januari 2026.
Peningkatan Aktivitas Sejak Awal Januari

Sejak 4 Januari 2026, Gunung Ile Lewotolok menunjukkan tanda-tanda erupsi yang lebih intens dibandingkan dengan periode sebelumnya. Tinggi kolom abu mencapai ratusan meter di atas puncak. Aktivitas vulkanik ini tercatat meningkat secara signifikan dari hari ke hari.
Data dari pemantauan kegempaan pada 1–15 Januari 2026 menunjukkan ribuan kejadian gempa, termasuk gempa erupsi, gempa hembusan, dan tremor non-harmonik. Jumlah kejadian gempa erupsi sepanjang periode tersebut mencapai lebih dari 2.700 kali, sementara gempa hembusan dilaporkan hampir 4.400 kali.
Pada periode 16–18 Januari 2026, aktivitas volcano seismic juga masih tinggi. Tercatat ratusan kejadian gempa erupsi dan gempa hembusan sepanjang tiga hari terakhir. Aktivitas ini memperkuat dasar ilmiah untuk menaikkan status gunung menjadi Level III Siaga.
Visual dan Fenomena Erupsi di Lapangan

Secara visual, Gunung Ile Lewotolok terlihat jelas meski sesekali tertutup kabut. Asap kawah berwarna putih dan kelabu teramati dengan intensitas tipis hingga sedang. Tinggi kolom erupsi berkisar antara 200–500 meter di atas puncak. Guguran material dan lontaran pijar juga diamati dari kawasan kawah.
Aliran lava juga terlihat keluar dari kawah utama. Sejumlah letusan disertai suara gemuruh lemah hingga sedang. Meskipun demikian, letusan ini belum menyebabkan dampak langsung yang parah terhadap permukiman di lereng bawah.
Imbauan Resmi kepada Masyarakat
Dalam keterangan resminya, Badan Geologi memberikan sejumlah himbauan kepada masyarakat di sekitar Gunung Ile Lewotolok. Warga diminta tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung. Larangan ini berlaku terutama di sektor selatan, tenggara, barat, serta timur laut yang dipandang berpotensi mengalami bahaya guguran lava atau awan panas.
Selain itu, masyarakat disarankan menggunakan masker pelindung mulut dan hidung untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanik. Sarana penampungan air bersih juga perlu ditutup agar tidak terkontaminasi abu vulkanik.
Potensi Bahaya dan Observasi Tetap Berlanjut

Dengan status Level III Siaga, Gunung Ile Lewotolok dinilai memiliki potensi ancaman yang lebih besar dibandingkan level sebelumnya. Risiko utama yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan lontaran material pijar, aliran lava pijar yang bergerak cepat di lereng, serta awan panas yang dapat menyapu lereng gunung.
Tim pengamat terus memantau aktivitas vulkanik melalui instrumen dan pemantauan visual harian. Data pemantauan menjadi dasar rekomendasi bagi otoritas setempat untuk mengambil langkah antisipatif berikutnya.
Dampak Awal terhadap Aktivitas Publik
Kenaikan status vulkanik ini telah berdampak pada penundaan beberapa kegiatan masyarakat di kawasan rawan. Aktivitas wisata di area kaki gunung juga dibatasi untuk mengurangi risiko paparan bahaya vulkanik kepada wisatawan dan penduduk.
Institusi lokal telah menyiapkan posko kesiapsiagaan bencana. Langkah ini diambil untuk memudahkan koordinasi respons bila terjadi perkembangan yang lebih serius.
Situasi Terkini dan Perkembangan
Hingga berita ini ditulis, status Gunung Ile Lewotolok masih berada di Level III Siaga. Tidak ada pernyataan resmi mengenai evakuasi massal, namun warga di sekitar area terimbas terus dipantau. Pemerintah daerah bersama instansi terkait memastikan komunikasi terus berjalan.
Perkembangan terbaru akan mengikuti rilis resmi dari Badan Geologi dan PVMBG. Publik diminta tetap mengikuti informasi dari sumber otoritatif demi keselamatan bersama.


