Bencana Dahsyat Agam: Kerugian Rp4,2 Triliun dan Langkah Cepat Pemulihan
Genews.co.id -Kabupaten Agam di Sumatera Barat diguncang bencana hidrometeorologi dahsyat pada akhir November 2025, akibat dampak Siklon Tropis Senyar. Banjir bandang, tanah longsor, banjir rob, serta angin puting beliung melanda 16 kecamatan, meninggalkan luka dalam berupa korban jiwa dan kerusakan masif. Pemerintah daerah mencatat total kerugian mencapai Rp4,2 triliun, angka yang mencerminkan betapa parahnya dampak di lima sektor utama: perumahan, infrastruktur, ekonomi, sosial, dan lintas sektor.
Tragedi ini merenggut 163 nyawa dan menyisakan 38 orang hilang, dengan pencarian resmi dihentikan pada 22 Desember 2025 atas persetujuan ahli waris. Hingga kini, 3.878 warga masih bertahan di pengungsian karena rumah mereka hancur atau berada di zona rawan. Situasi ini menuntut respons cepat dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga pusat.
Rincian Kerugian yang Menyayat Hati

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Agam, Roza Syafdefianti, merinci kerugian secara teliti. Sektor infrastruktur menjadi yang paling terpukul dengan beban Rp2,23 triliun. Di antaranya, transportasi menyerap Rp1,63 triliun akibat jalan rusak parah dan jembatan ambruk; sumber daya air Rp368,46 miliar; serta air dan sanitasi Rp234,24 miliar.
Sementara itu, sektor perumahan tak kalah tragis dengan kerugian Rp1,59 triliun, terdiri dari kerusakan rumah tinggal Rp 741,92 miliar dan prasarana lingkungan Rp855,60 miliar. Kerusakan di sektor ekonomi dan sosial menambah beban, meski belum dirinci secara keseluruhan. Data ini menjadi dasar perhitungan pemulihan yang realistis, di mana setiap rupiah kerugian harus dikembalikan melalui program terstruktur.
Upaya Pemulihan yang Tak Kenal Lelah

Pemerintah Kabupaten Agam tak tinggal diam. Masa tanggap darurat diperpanjang 14 hari, dari 23 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026, guna menyempurnakan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi. Tim fokus membersihkan material longsor yang menumpuk, memperbaiki infrastruktur darurat, membangun jembatan sementara, serta mempercepat hunian sementara bagi pengungsi.
Langkah ini krusial mengingat ribuan warga masih bergantung pada tenda darurat. Pembersihan longsor prioritas utama untuk membuka akses transportasi, sementara perbaikan jembatan sementara memastikan logistik makanan dan obat-obatan mengalir lancar. Upaya ini menunjukkan ketangguhan birokrasi daerah dalam menghadapi krisis.
Komitmen Kuat dari Pemerintah Pusat
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) turun tangan dengan target ambisius untuk membangun 518 hunian sementara (huntara) di 16 titik pada enam kecamatan, rampung sebelum 5 Januari 2026. Presiden Prabowo Subianto secara langsung meninjau Posko Pengungsi SDN 05 Kayu Pasak Palembayan pada 18 Desember 2025. Beliau menegaskan komitmen membangun hunian tetap pasca-huntara selesai.
Prabowo menyatakan kegembiraannya karena sudah melihat rumah-rumah hunian sementara sudah mulai dibangun. Dan pengungsi sudah tidak perlu tinggal di tenda lagi. Ketua Harian Unsur Pengarah BNPB, Ary Laksmana, mempercepat proyek dengan menambah personel dan sistem dua shift. Strategi ini memastikan tenggat waktu terpenuhi, memberi harapan baru bagi korban.
Bencana Agam menjadi pengingat betapa rentannya wilayah kita terhadap perubahan iklim. Dengan kolaborasi lintas level pemerintahan, pemulihan tak hanya soal membangun kembali, tapi juga membangun lebih tangguh. Masyarakat Agam kini menanti fase rekonstruksi penuh, agar kehidupan normal segera kembali.


